Lampu merah di perempatan jalan besar. Motor-motor di garis terdepan, mobil-mobil antara tengah dan belakang. Mereka menunggu lampu berwarna hijau, dengan membawa cerita yang berbeda-beda. Seorang kakek yang membonceng seorang nenek dengan motor tua nya. Sang nenek memeluk tas jinjing berisikan map-map dengan kertas-kertasnya. Ingin segera sampai ke sebuah bank untuk mendapatkan pesangon mereka. Seorang mahasiswa yang menggendong ransel dan "tas" karton nya, mungkin seorang mahasiswa arsitektur, berpikir keras jam berapa ia akan tiba di kampusnya sambil memegang erat stang motornya, sambil sesekali membuka kaca helm nya dan menggerakan kaki nya. Seorang laki-laki umur 40 tahunan, dengan jaket coklat tebalnya, membonceng seorang anak dengan tubuh mungil berseragam SD. Sang bapak berpikir apakah ia mampu mengantarkan anaknya tepat pada waktunya sekaligus datang ke tempat kerja pada waktunya, Sang anak yang memeluk erat bapaknya hanya berpikir simple, bagaimana cara...
"Aing pengen kadinya" "Euh aing mah" "Nya kumaha aing we" "Ntar aja we pergi nya sama aing" Kata "aing" ini pasti sudah familiar di kalangan orang sunda, ataupun para pendatang di daerah Jawa Barat. Bahkan ntah hanya menurut pikiran saya yang sok tahu, kata aing ini ibaratkan gue nya Jakarta, alias sudah jadi bahasa gaul. Why? lantaran abdi sering ngadangu si aing aing eta teh dihijikeun sareng bahasa Indonesia (Sapertos nu ku abdi serat di luhur), sareng siga na barudak sapantareun abdi seeurna terang sareng ngangge aing hungkul dina basa sunda teh. Ieu nu matak miris saur abdi mah. Ya gitu lah, hehe. (Sengaja pake bahasa sunda biar ga terlalu nyindir heheh) Memang berdasarkan apa yang saya baca dan apa yang saya rasakan, kata aing ini menunjukan kebanggaan diri kita. Dengan berkata "Aing mah ........" atau apapun, dapat menunjukan bahwa kita bangga dengan apa yang kita punya. Namun menurut tata bahasa sunda, kata ...