Langsung ke konten utama

Postingan

See my post!

Lampu Merah.

Lampu merah di perempatan jalan besar. Motor-motor di garis terdepan, mobil-mobil antara tengah dan belakang. Mereka  menunggu lampu berwarna hijau, dengan membawa cerita yang berbeda-beda. Seorang kakek yang membonceng seorang nenek dengan motor tua nya. Sang nenek memeluk tas jinjing berisikan map-map dengan kertas-kertasnya.  Ingin segera sampai ke sebuah bank untuk mendapatkan pesangon mereka. Seorang mahasiswa yang menggendong ransel dan "tas" karton nya, mungkin seorang mahasiswa arsitektur, berpikir keras jam berapa ia akan tiba di kampusnya sambil memegang erat stang motornya, sambil sesekali membuka kaca helm nya dan menggerakan kaki nya. Seorang laki-laki umur 40 tahunan, dengan jaket coklat tebalnya, membonceng seorang anak dengan tubuh mungil berseragam SD. Sang bapak berpikir apakah ia mampu mengantarkan anaknya tepat pada waktunya sekaligus datang ke tempat kerja pada waktunya, Sang anak yang memeluk erat bapaknya hanya berpikir simple, bagaimana cara...
Postingan terbaru

Aing, bahasa kasar?

"Aing pengen kadinya" "Euh aing mah" "Nya kumaha aing  we" "Ntar aja we pergi nya sama aing" Kata "aing" ini pasti sudah familiar di kalangan orang sunda, ataupun para pendatang di daerah Jawa Barat. Bahkan ntah hanya menurut pikiran saya yang sok tahu, kata aing ini ibaratkan gue nya Jakarta, alias sudah jadi bahasa gaul. Why? lantaran abdi sering ngadangu si aing aing eta teh dihijikeun sareng bahasa Indonesia (Sapertos nu ku abdi serat di luhur), sareng siga na barudak sapantareun abdi seeurna terang sareng ngangge aing hungkul dina basa sunda teh. Ieu nu matak miris saur abdi mah. Ya gitu lah, hehe. (Sengaja pake bahasa sunda biar ga terlalu nyindir heheh)  Memang berdasarkan apa yang saya baca dan apa yang saya rasakan, kata aing ini menunjukan kebanggaan diri kita. Dengan berkata "Aing mah ........" atau apapun, dapat menunjukan bahwa kita bangga dengan apa yang kita punya. Namun menurut tata bahasa sunda, kata ...

Tanggal 15, A Short Story.

Sore itu Bandung sedang tak bersahabat. Hujan deras terus turun. Petir-petir datang bergantian seolah mereka punya "jadwal kedatangan" mereka ke bumi. Kupandangi kaca-kaca besar yang terletak di sebelahku. Sudah hampir  satu jam aku di tempat ini. Di sebuah kafe di sudut kota Bandung. Yang kulakukan hanyalah mengingat kesana-kemari. Terlebih mengingat, mengapa aku selalu saja duduk disini. Setiap tanggal 15. Sangat jauh sebelum hari ini, "Guys, jangan lupain semua yang udah kita laluin bareng-bareng yaaa! kalian harus inget semua tentang kita sepanjaaaaaaaang hidup kalian!" Ujar temanku sambil menatap mata kami satu per satu. Kami semua mengangguk sambil tersenyum. "Yaiyalah, mana mungkin aku lupa. Apalagi waktu kalian jailin aku barusan" temanku yang lainya berkata seperti itu dengan nada yang sebal. Kami semua tertawa. Lalu temanku yang lainya tiba-tiba berdiri dan berkata, "Pokoknya kita harus tetep rutin ketemu!" "Naaaaah, cakep t...

Gila Pengalaman

Kadang. kita mesti gila pengalaman. Menghabiskan waktu ke waktu untuk pengalaman, membakar tenaga untuk pengalaman. Bahkan, menghabiskan uang. Seperti yang tercantum di setiap lembar sebuah buku bermerk, Experience is the best teacher . Pengalaman adalah guru yang terbaik. Ketika kita ditanya, "Apa tujuan kamu ikut organisasi ini?"   "Untuk menambah pengalaman". "Kenapa kamu mengikuti kegiatan ini?"  "Untuk menambah pengalaman"   "Kenapa kamu tertarik magang di perusahaan ini?"   "Untuk menambah pengalaman". Sepertinya, pengalaman bisa jadi bukan sebuah kebutuhan, tetapi kepentingan. Kepentingan setiap individu untuk kehidupanya. Layaknya roti tawar yang memerlukan selai, demi kepentingan sedapnya rasa roti ini di mulut. Hidup memerlukan banyak pengalaman, demi kepentingan manisnya kehidupan ini.  Pengalaman (n) yang pernah dialami (dijalani, dirasai, ditanggung, dsb) Cari pengalaman sebanyak-banyaknya, kata mere...

Mencoba Mencintai Kembali Buku.

“Outside of a dog, a book is man's best friend. Inside of a dog it's too dark to read.”  ―  Groucho Marx ,  The Essential Groucho: Writings For By And About Groucho Marx Dulu waktu saya masih SD, saya gaul kalo saya punya KKPK ( Kecil-Kecil Punya Karya, Mizan). Setelah bender-bender sudah kadaluwarsa, yang kita bahas itu "ih buku yang ini rame" "ih yang itu rame ga aku pengen baca dong" karena buku-buku KKPK ini yang banyak memuat cerita-cerita menarik dari para penulis yang rata-rata seumuran saya. Saya ingat, buku KKPK yang pertama kali saya punya itu 2 of 2 karya Kak Sri Izzati, pemegang rekor MURI penulis tercilik (dan saya bener-bener ga bisa berhenti kagum sama kaka ini) yang saya beli di baazar buku di Bandung. Dari situ, saya sering dan suka baca buku. Buku apa aja. Saya hampir ga percaya sekarang, waktu kelas 3 sd saya bisa melahap 1 buku ipa tebal sehabis saya pulang main dalam sehari. Saya rindu masa-masa itu. Sayang, ternyata saya...

Apa aku Kartini?

Di antara hiruk pikuk kelas karena jam pelajaran kosong, aku pergi ke depan dengan membawa buku Habis Gelap Terbitlah Terang. Kucoba mencari posisi yang pas bagi buku legenda ini untuk ku ambil photo nya. Dengan segera, photo ini sudah kupampang dalam instagramku, dengan tulisan "Selamat Hari Kartini" Lalu aku bertanya pada diriku sendiri, "Apa aku Kartini?" Yang kulakukan pada tanggal 21 April, hanya menciptakan sebuah pencitraan. Aku lupa memaknai, Aku bahkan lupa menghargai.  Lantas aku kembali bertanya pada diriku sendiri, "Apa aku Kartini?"  Yang aku ikuti selama ini hanya egoku saja. Bukankah untuk itu aku hidup? bagaimana dengan orang-orang di sekitarku?  Lalu, aku bertanya lagi. "Apa aku Kartini?" Aku hanya pelajar biasa. Yang mengeluh ketika tugas-tugas mulai menumpuk, yang dengan setulus hati mencintai jam pelajaran kosong. Apa yang dapat kulakukan? menyelesaikan soal matematika yang rumit pun, rasan...

Si Kemarin

Seseorang berkata, bahwa kita punya 3 waktu di hidup kita. Kemarin, sekarang, dan esok. Kemarin hanyalah sebuah cerita. Kemarin sudahlah menjadi angin. Tapi, kemarin adalah sebuah kenangan dalam memori. Sekarang. Sekarang adalah hal yang harus kita upayakan. Sekarang adalah untuk memperbaiki kesalahan. Tapi, sekarang bukankah waktunya untuk membuat sebuah memori yang baik? Esok. Esok itu hal yang tak menentu. Esok itu kita tak akan pernah tahu. Tapi, akankah kita melupakan yang telah lalu? Sekarang akan menjadi kemarin, dan esok pun akan menjadi kemarin. Lantas, haruskah kemarin menjadi yang paling belakang? menjadi yang paling terlupakan? Bagaimana jika aku si kemarin mu? Apakah kamu akan lupa dengan apa yang telah kita lalui bersama?