Kadang. kita mesti gila pengalaman. Menghabiskan waktu ke waktu untuk pengalaman, membakar tenaga untuk pengalaman. Bahkan, menghabiskan uang. Seperti yang tercantum di setiap lembar sebuah buku bermerk, Experience is the best teacher. Pengalaman adalah guru yang terbaik.
Cari pengalaman sebanyak-banyaknya, kata mereka. Dengan banyaknya pengalaman kita semakin handal dan pintar. Orang-orang akan memandang kita dengan predikat, "orang yang sudah berpengalaman." Nyatanya salah. Pengalaman membuat kita belajar. Sebanyak-banyaknya pengalaman seseorang, ia akan belajar pula dari orang-orang yang belum berpengalaman. Rasanya apa yang guru ekonomi saya katakan benar. "Kamu harus percaya diri dan rendah hati". Begitu pula kata Cinderella dalam filmnya, "Be kind, and have a courage". Karena pengalaman menuntut kita belajar seperti itu. Kita harus mendongakan kepala pada sebuah pengalaman yang baru, lalu kembali tunduk.
Ketika kita ditanya, "Apa tujuan kamu ikut organisasi ini?" "Untuk menambah pengalaman". "Kenapa kamu mengikuti kegiatan ini?" "Untuk menambah pengalaman" "Kenapa kamu tertarik magang di perusahaan ini?" "Untuk menambah pengalaman". Sepertinya, pengalaman bisa jadi bukan sebuah kebutuhan, tetapi kepentingan. Kepentingan setiap individu untuk kehidupanya. Layaknya roti tawar yang memerlukan selai, demi kepentingan sedapnya rasa roti ini di mulut. Hidup memerlukan banyak pengalaman, demi kepentingan manisnya kehidupan ini.
Pengalaman (n) yang pernah dialami (dijalani, dirasai, ditanggung, dsb)
Cari pengalaman sebanyak-banyaknya, kata mereka. Dengan banyaknya pengalaman kita semakin handal dan pintar. Orang-orang akan memandang kita dengan predikat, "orang yang sudah berpengalaman." Nyatanya salah. Pengalaman membuat kita belajar. Sebanyak-banyaknya pengalaman seseorang, ia akan belajar pula dari orang-orang yang belum berpengalaman. Rasanya apa yang guru ekonomi saya katakan benar. "Kamu harus percaya diri dan rendah hati". Begitu pula kata Cinderella dalam filmnya, "Be kind, and have a courage". Karena pengalaman menuntut kita belajar seperti itu. Kita harus mendongakan kepala pada sebuah pengalaman yang baru, lalu kembali tunduk.
Pengalaman benar-benar guru yang terbaik. Dan hanya orang-orang yang pandai mengambil hikmahlah, yang merasakan hal tersebut. Kita tidak perlu menjadi yang paling pertama, lebih baik menjadi yang terbaik, yang belajar dari sebuah pengalaman. Dari pengalaman banyak yang bisa kita ambil. Karena kita sudah mengalami nya, kesalahan kesalahan mana mungkin kita ulangi lagi, kan?
Jadi ingat, dulu ketika SD (rasanya hampir semua orang di Indonesia pernah mengalaminya) pelajaran pertama di hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang adalah menulis. Menulis pengalaman semasa liburan. Ternyata, pengalaman bukan hanya guru. Dia juga pewarna kehidupan.
Mungkin, pengalaman memang segalanya. Sekali lagi, terkadang kita mesti gila pengalaman. Ah sudahlah, tulisan ini semakin berat. Saya pergi mencari pengalaman dulu.
P.s semoga kita selalu jadi orang yang pandai mengambil hikmah dari setiap pengalaman, aamiin.
Komentar
Posting Komentar