Langsung ke konten utama

Gila Pengalaman

Kadang. kita mesti gila pengalaman. Menghabiskan waktu ke waktu untuk pengalaman, membakar tenaga untuk pengalaman. Bahkan, menghabiskan uang. Seperti yang tercantum di setiap lembar sebuah buku bermerk, Experience is the best teacher. Pengalaman adalah guru yang terbaik.

Ketika kita ditanya, "Apa tujuan kamu ikut organisasi ini?"   "Untuk menambah pengalaman". "Kenapa kamu mengikuti kegiatan ini?"  "Untuk menambah pengalaman"   "Kenapa kamu tertarik magang di perusahaan ini?"   "Untuk menambah pengalaman". Sepertinya, pengalaman bisa jadi bukan sebuah kebutuhan, tetapi kepentingan. Kepentingan setiap individu untuk kehidupanya. Layaknya roti tawar yang memerlukan selai, demi kepentingan sedapnya rasa roti ini di mulut. Hidup memerlukan banyak pengalaman, demi kepentingan manisnya kehidupan ini. 


Pengalaman (n) yang pernah dialami (dijalani, dirasai, ditanggung, dsb)


Cari pengalaman sebanyak-banyaknya, kata mereka. Dengan banyaknya pengalaman kita semakin handal dan pintar. Orang-orang akan memandang kita dengan predikat, "orang yang sudah berpengalaman." Nyatanya salah. Pengalaman membuat kita belajar. Sebanyak-banyaknya pengalaman seseorang, ia akan belajar pula dari orang-orang yang belum berpengalaman. Rasanya apa yang guru ekonomi saya katakan benar. "Kamu harus percaya diri dan rendah hati". Begitu pula kata Cinderella dalam filmnya, "Be kind, and have a courage". Karena pengalaman menuntut kita belajar seperti itu. Kita harus mendongakan kepala pada sebuah pengalaman yang baru, lalu kembali tunduk. 


Pengalaman benar-benar guru yang terbaik. Dan hanya orang-orang yang pandai mengambil hikmahlah, yang merasakan hal tersebut. Kita tidak perlu menjadi yang paling pertama, lebih baik menjadi yang terbaik, yang belajar dari sebuah pengalaman. Dari pengalaman banyak yang bisa kita ambil. Karena kita sudah mengalami nya, kesalahan kesalahan mana mungkin kita ulangi lagi, kan? 


Jadi ingat, dulu ketika SD (rasanya hampir semua orang di Indonesia pernah mengalaminya) pelajaran pertama di hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang adalah menulis. Menulis pengalaman semasa liburan. Ternyata, pengalaman bukan hanya guru. Dia juga pewarna kehidupan. 



Mungkin, pengalaman memang segalanya. Sekali lagi, terkadang kita mesti gila pengalaman. Ah sudahlah, tulisan ini semakin berat. Saya pergi mencari pengalaman dulu. 







P.s semoga kita selalu jadi orang yang pandai mengambil hikmah dari setiap pengalaman, aamiin. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lampu Merah.

Lampu merah di perempatan jalan besar. Motor-motor di garis terdepan, mobil-mobil antara tengah dan belakang. Mereka  menunggu lampu berwarna hijau, dengan membawa cerita yang berbeda-beda. Seorang kakek yang membonceng seorang nenek dengan motor tua nya. Sang nenek memeluk tas jinjing berisikan map-map dengan kertas-kertasnya.  Ingin segera sampai ke sebuah bank untuk mendapatkan pesangon mereka. Seorang mahasiswa yang menggendong ransel dan "tas" karton nya, mungkin seorang mahasiswa arsitektur, berpikir keras jam berapa ia akan tiba di kampusnya sambil memegang erat stang motornya, sambil sesekali membuka kaca helm nya dan menggerakan kaki nya. Seorang laki-laki umur 40 tahunan, dengan jaket coklat tebalnya, membonceng seorang anak dengan tubuh mungil berseragam SD. Sang bapak berpikir apakah ia mampu mengantarkan anaknya tepat pada waktunya sekaligus datang ke tempat kerja pada waktunya, Sang anak yang memeluk erat bapaknya hanya berpikir simple, bagaimana cara...

Apa aku Kartini?

Di antara hiruk pikuk kelas karena jam pelajaran kosong, aku pergi ke depan dengan membawa buku Habis Gelap Terbitlah Terang. Kucoba mencari posisi yang pas bagi buku legenda ini untuk ku ambil photo nya. Dengan segera, photo ini sudah kupampang dalam instagramku, dengan tulisan "Selamat Hari Kartini" Lalu aku bertanya pada diriku sendiri, "Apa aku Kartini?" Yang kulakukan pada tanggal 21 April, hanya menciptakan sebuah pencitraan. Aku lupa memaknai, Aku bahkan lupa menghargai.  Lantas aku kembali bertanya pada diriku sendiri, "Apa aku Kartini?"  Yang aku ikuti selama ini hanya egoku saja. Bukankah untuk itu aku hidup? bagaimana dengan orang-orang di sekitarku?  Lalu, aku bertanya lagi. "Apa aku Kartini?" Aku hanya pelajar biasa. Yang mengeluh ketika tugas-tugas mulai menumpuk, yang dengan setulus hati mencintai jam pelajaran kosong. Apa yang dapat kulakukan? menyelesaikan soal matematika yang rumit pun, rasan...

Tanggal 15, A Short Story.

Sore itu Bandung sedang tak bersahabat. Hujan deras terus turun. Petir-petir datang bergantian seolah mereka punya "jadwal kedatangan" mereka ke bumi. Kupandangi kaca-kaca besar yang terletak di sebelahku. Sudah hampir  satu jam aku di tempat ini. Di sebuah kafe di sudut kota Bandung. Yang kulakukan hanyalah mengingat kesana-kemari. Terlebih mengingat, mengapa aku selalu saja duduk disini. Setiap tanggal 15. Sangat jauh sebelum hari ini, "Guys, jangan lupain semua yang udah kita laluin bareng-bareng yaaa! kalian harus inget semua tentang kita sepanjaaaaaaaang hidup kalian!" Ujar temanku sambil menatap mata kami satu per satu. Kami semua mengangguk sambil tersenyum. "Yaiyalah, mana mungkin aku lupa. Apalagi waktu kalian jailin aku barusan" temanku yang lainya berkata seperti itu dengan nada yang sebal. Kami semua tertawa. Lalu temanku yang lainya tiba-tiba berdiri dan berkata, "Pokoknya kita harus tetep rutin ketemu!" "Naaaaah, cakep t...