Di antara hiruk pikuk kelas karena jam pelajaran kosong, aku pergi ke depan dengan membawa buku Habis Gelap Terbitlah Terang. Kucoba mencari posisi yang pas bagi buku legenda ini untuk ku ambil photo nya. Dengan segera, photo ini sudah kupampang dalam instagramku, dengan tulisan "Selamat Hari Kartini"
Tapi, aku ingin pikiranku bukanlah pikiran yang biasa. Aku ingin membangkitkan dunia dengan caraku sendiri. Aku ingin mengatakan "tidak" dan "ya" dengan mulutku sendiri. Aku ingin berdiri senidiri dengan cita-cita sendiri. Bukan cita-cita Ibu Kartini dari dahulu, membuat perempuan memiliki hak yang setara dengan laki-laki. Bukan.
Lalu aku bertanya pada diriku sendiri, "Apa aku Kartini?"
Yang kulakukan pada tanggal 21 April, hanya menciptakan sebuah pencitraan. Aku lupa memaknai, Aku bahkan lupa menghargai.
Lantas aku kembali bertanya pada diriku sendiri, "Apa aku Kartini?"
Yang aku ikuti selama ini hanya egoku saja. Bukankah untuk itu aku hidup? bagaimana dengan orang-orang di sekitarku?
Lalu, aku bertanya lagi. "Apa aku Kartini?"
Aku hanya pelajar biasa. Yang mengeluh ketika tugas-tugas mulai menumpuk, yang dengan setulus hati mencintai jam pelajaran kosong. Apa yang dapat kulakukan? menyelesaikan soal matematika yang rumit pun, rasanya sudah ingin pingsan, bagaimana melakukan sesuatu yang besar, seperti yang Ibu Kartini lakukan dahulu?
Duh, "Apa aku Kartini?"
Tapi, aku ingin pikiranku bukanlah pikiran yang biasa. Aku ingin membangkitkan dunia dengan caraku sendiri. Aku ingin mengatakan "tidak" dan "ya" dengan mulutku sendiri. Aku ingin berdiri senidiri dengan cita-cita sendiri. Bukan cita-cita Ibu Kartini dari dahulu, membuat perempuan memiliki hak yang setara dengan laki-laki. Bukan.
Perlu aku pertanyakan lagi, "Apa aku Kartini?"
Aku bukan Kartini. Ibu Kartini, Ibu Dewi Sartika, Ibu Maria Walanda Maramis, Ibu Christina Martha Tiahahu, Ibu Cut Nyak Dhien, Ibu Haji Rasuna Said, Ibu Inggit Garnasih, adalah semangat-semangat yang selalu aku ingin alirkan dalam darahku. Cita-citaku ingin bersuara di forum dunia, cita-citaku ingin menyelamatkan banyak anak-anak!
Cita-citaku bukanlah mendapatkan hak yang sama dengan laki-laki.
Aku bukan Kartini. Ibu Kartini, Ibu Dewi Sartika, Ibu Maria Walanda Maramis, Ibu Christina Martha Tiahahu, Ibu Cut Nyak Dhien, Ibu Haji Rasuna Said, Ibu Inggit Garnasih, adalah semangat-semangat yang selalu aku ingin alirkan dalam darahku. Cita-citaku ingin bersuara di forum dunia, cita-citaku ingin menyelamatkan banyak anak-anak!
Cita-citaku bukanlah mendapatkan hak yang sama dengan laki-laki.
Jadi, Apa aku Kartini?
Dengan caraku seperti ini?
Maaf, pikiranku sempit.

Komentar
Posting Komentar