Sore itu Bandung sedang tak bersahabat. Hujan deras terus turun. Petir-petir datang bergantian seolah mereka punya "jadwal kedatangan" mereka ke bumi. Kupandangi kaca-kaca besar yang terletak di sebelahku. Sudah hampir satu jam aku di tempat ini. Di sebuah kafe di sudut kota Bandung. Yang kulakukan hanyalah mengingat kesana-kemari. Terlebih mengingat, mengapa aku selalu saja duduk disini. Setiap tanggal 15.
Sangat jauh sebelum hari ini,
"Guys, jangan lupain semua yang udah kita laluin bareng-bareng yaaa! kalian harus inget semua tentang kita sepanjaaaaaaaang hidup kalian!" Ujar temanku sambil menatap mata kami satu per satu. Kami semua mengangguk sambil tersenyum. "Yaiyalah, mana mungkin aku lupa. Apalagi waktu kalian jailin aku barusan" temanku yang lainya berkata seperti itu dengan nada yang sebal. Kami semua tertawa. Lalu temanku yang lainya tiba-tiba berdiri dan berkata, "Pokoknya kita harus tetep rutin ketemu!" "Naaaaah, cakep tuh" ujar temanku yang lainya. Aku hanya diam. Mengingat nanti aku lah yang sepertinya akan terpatuk jarak paling jauh diantara mereka. "Ahh dia kan yang paling jauh diantara kita, nanti susah ketemu lagi" ucap temanku yang memulai topik tentang sesuatu yang intens ini. "Hehehehe" aku hanya nyengir. Jujur, itu yang aku takutkan. Aku takut, pertemuan diantara aku dan mereka sulit, aku takut aku jadi orang yang lupa diri dengan lingkungan yang baru. Aku takut, aku melupakan mereka. "Awas loh, nanti jangan mentang-mentang disana serba gaul kamu jadi lupa sama kita!" Temanku menjitak kepalaku. Aw, dia memang tersadis. "Iya loh, harus masih harus tetep like photo instagram kita" Temanku memperjelas kata "like" itu. Yah, dia memang ternarsis. "Apalagi kalo ntar dapet cowo baru disanaaaa" Temanku berkata sambil mengedip-ngedipkan matanya. Oh, dia memang tergenit. "Ga akan, ga akan, ga akan. Pokonya ga akan kaya gitu." Aku mempertegas perkataanku. Mereka tersenyum, lalu spontan memelukku. Salah satu dari mereka berkata, "Pokonya sukses terus yaaaa kamu dan kita semuaaa" Ah, kalian memang yang paling manis. Tiba-tiba salah satu temanku yang lain berkata, "Eh eh eh kita ketemuan rutin nya di tanggal hari ini aja yuk, pokonya mau ada badai, hujan, angin, petir, mau tugas numpuk, pacar ngambek, hari buruh, hari libur, hari sibuk, lagi jarak jauh, kita wajib ketemu." Kami semua berpikir sejenak. "Boleh tuh," kami setuju dengan ide nya. Kami sepakat, akan kumpul rutin di tanggal hari itu. Dan hari itu, tanggal 15.
Aku kemudian menyeruput kopi di depanku, lalu tersenyum tipis mengingat bagaimana semua itu berawal.
Kami akhirnya berpencar, terpisah dengan jarak yang berbeda-beda. Seperti yang sudah kuceritakan sebelumnya, aku yang "terlempar" paling jauh diantara mereka. Aku di Jogja, mereka di Bandung. Aku selalu berpikir bagaimana aku bisa datang ke pertemuan rutin itu. Jarak Jogja-Bandung bukanlah bercanda, apalagi masalah biayanya. Tapi aku bertekad, setidaknya aku bisa datang di pertemuan itu 3 kali dalam setahun. Aku takut, hal yang baru membuatku melupakan hal yang lama. Aku tak ingin melupakan mereka, yang benar-benar mengubahku. Mereka salah satu orang-orang yang membangkitkan kepercayaan diriku. They changed me. Dan pertemuan rutin tanggal 15 itu benar-benar kami lakukan. Pertemuan pertama, 8 orang dari kami datang lengkap. Karena ini pertemuan pertama, dan tepat di hari minggu, aku sempatkan datang di sela-sela kegiatan sekolahku. Lingkungan baru membuatku lebih pandai dalam menyusun skala prioritas. Aku tahu mana yang lebih penting dan mendesak. Karena pertemuan ini akan jadi jarang, dan mereka penting pula bagiku, aku mendahulukan mereka. Aku tahu sekarang, aku bukanlah orang yang benar-benar sibuk, asalkan skala prioritasku aman-aman saja.
"Eh kita akhirnya bener-bener ketemuan ya, kirain kamu ngga bakal dateng loh" ujar temanku.
"Ya datenglah, asalkan ada duit mah aku siap dateng kapan aja hahahaha" ucapku sambil tertawa, kuharap ada salah satu dari mereka yang dapat suka rela mensponsori ongkos Jogja-Bandungku.
Mereka hanya terdiam menatapku garing. Sepertinya tidak ada harapan dari mereka.
"Eh nanti kita ketemuan di tempat ini aja terus ya, di kursi yang sama," temanku berkata.
Ya, tempat ini. Tempat dimana aku berada sekarang. Tepat di kursi yang sama.
Aku termenung menatap bangku-bangku kosong di hadapanku. They supposed to be here.
Tak kusangka, aku bisa datang di pertemuan tanggal 15 itu. Terlebih keluargaku memang mendukungku untuk datang di sekitaran tanggal tersebut, "Suka pas keluarga lagi ngumpul," kata ibuku. Pertemuan kami berlangsung lancar selama satu tahun. Meskipun beberapa pertemuan tidak dihadiri 1-2 orang karena mereka punya kepentingan yang lebih penting. Dalam pertemuan itu, kami menceritakan banyak hal. Tak lupa, bergosip (karena kami perempuan!). Tak jarang kami merencakanan perjalanan liburan bersama-sama. Mulai dari wisata gunung Merapi di kota tempatku merantau, hingga Lombok. Syukurlah, dalam satu tahun itu kami bisa liburan bersama meskipun itu hanya ke tempat wisata baru di Lembang. Sejujurnya, tempat ini ternyata tak se-wah yang aku ekspektasikan. Tapi tak apa, asalkan bersama mereka.
"Ya, asalkan bersama mereka" gumamku sendiri.
Setelah pertemuan tanggal 15 itu, semangatku terasa hidup kembali. Apalagi ditambah dengan waktu yang bisa kuhabiskan bersama keluargaku. Oleh karena itu aku selalu menantikan tanggal 15 di setiap bulanya. Berharap, aku selalu bisa menghabiskan waktu menyenangkan itu. Setahun yang benar-benar, membuatku nyaman.
Aku menghela nafas. Menatap kembali hujan di Bandung itu dalam-dalam. Setiap rintik-rintik hujan, rasanya sudah mewakili perasaanku. Yang ingin jatuh, tumpah-ruah, lupa.
Waktu cepat berlalu, ketika satu persatu hal mulai berubah. Di tahun kedua, pertemuan tanggal 15 kami rasanya semakin hambar. Berawal dari hanya 5 orang, kemudian menjadi 3 orang. Semakin lama, hanya dua orang. Dengan pertemuan yang sangat singkat. Nampaknya, mereka sudah sibuk dengan dunia mereka sendiri. Dan nampaknya pula, mereka sudah menemukan orang-orang baru. Aku bisa melihatnya dari photo-photo yang mereka upload di akun instagram mereka (bahkan aku masih menepati janji untuk tetap me-like photo instagram mereka). Sekarang photo-photo mereka lebih banyak bersama orang-orang baru mereka. They have changed.
Handphone ku kembali menyala. Notifikasi line baru saja masuk. "Maaf banget ya, aku juga ngga bisa ikut, aku ada urusan lain"Itu dari temanku, di grup line kami. Kuputuskan untuk melihat chat yang lebih atas. Tapi yang kutemukan selalu saja kata "maaf" dan "gabisa".
Aku menghela nafas. Selalu saja begitu.
Ini sudah tahun ketiga. Aku masih tetap datang dari Jogja ke Bandung di tanggal 15. Berharap, suatu saat kami bisa seperti dulu. But what do i hope for? mereka selalu saja sama. Sibuk dengan dunia baru mereka. Bagaimana denganku? Apa aku kurang kerjaan?
Tidak, sama sekali tidak. Sekali lagi kukatakan tidak.
Sudah kubilang, aku tahu skala prioritas. Aku yakin, tidak semua orang sibuk. Semua berdasarkan dimana seseorang menaruhmu dalam skala prioritasnya. Aku selalu berusaha untuk dapat menaruh tanggal 15 ini, dalam skala prioritasku. Karena aku selalu merasa, bahwa pertemuan kami akan selalu lebih bermakna, daripada kesibukan demi nama semata. Tapi melihat mereka seperti itu, aku jadi ragu.
Apa aku masih "bermakna" untuk mereka?
Ini berat setiap kali aku memikirkan tentang hal ini. Aku seperti orang bodoh, yang mengharapkan hal yang tak pasti.
Aku menundukan kepalaku di atas meja.
Seharusnya, aku lah yang lebih lupa dengan mereka. Kehidupanku jelas-jelas lebih baru daripada mereka. Seharusnya, aku tak usah datang setiap kali tanggal 15. Seharusnya............
Aku hampir menitikan air mataku. Aku menghela nafas berat. Aku semakin berpikiran buruk.
Lalu kuputuskan untuk pergi. Sepertinya aku tak akan datang lagi.
Komentar
Posting Komentar