Lampu merah di perempatan jalan besar.
Motor-motor di garis terdepan, mobil-mobil antara tengah dan belakang.
Mereka menunggu lampu berwarna hijau, dengan membawa cerita yang berbeda-beda.
Seorang kakek yang membonceng seorang nenek dengan motor tua nya. Sang nenek memeluk tas jinjing berisikan map-map dengan kertas-kertasnya. Ingin segera sampai ke sebuah bank untuk mendapatkan pesangon mereka.
Seorang mahasiswa yang menggendong ransel dan "tas" karton nya, mungkin seorang mahasiswa arsitektur, berpikir keras jam berapa ia akan tiba di kampusnya sambil memegang erat stang motornya, sambil sesekali membuka kaca helm nya dan menggerakan kaki nya.
Seorang laki-laki umur 40 tahunan, dengan jaket coklat tebalnya, membonceng seorang anak dengan tubuh mungil berseragam SD. Sang bapak berpikir apakah ia mampu mengantarkan anaknya tepat pada waktunya sekaligus datang ke tempat kerja pada waktunya, Sang anak yang memeluk erat bapaknya hanya berpikir simple, bagaimana caranya tetap berpegang erat pada ayahnya agar tak terjatuh.
Anak laki-laki dengan seragamnya yang masih terlihat dari kemeja kotak-kotak hijaunya, dengan lingkaran hitam di bawah matanya, tampak menerawang. Kenapa harus ke sekolah lagi.
Di balik pintu mobil sebuah xenia hitam tampak seorang ibu-ibu umur 30 tahunan, dengan seragam warna khaki khas PNS. Wanita itu sesekali melirik jamnya, khawatir terlambat ke kantor.
Di sebelahnya, di sebuah mobil nissan march putih terlihat sepasang pasangan muda yang tampak berseri-seri membicarakan berbagai macam Wedding Organizer. Mungkin mereka akan pergi untuk mencari WO yang tepat untuk pernikahan mereka.
Di sebelah paling pinggir jalan, seorang supir angkot yang tampak sangat santai. Ia menjalani rutinitas setiap harinya, bolak-balik melewati rute yang sama.
Mereka semua sama-sama cemas menunggu si lampu hijau. Tak ingin berlama-lama dengan si lampu merah. Menunggu itu membosankan.
Mereka sama-sama mulai bersemangat ketika lampu kuning sudah menyala. Siap-siap. Para pengendara motor mulai menancapkan gas.
Lalu lampu hijau menyala. Kehidupan dimulai. Saatnya pergi.
Lalu cerita-cerita lain akan dibawakan lagi oleh pengendara-pengendara lain, dan seterusnya akan begitu. Lampu merah tak pernah tidur. Apabila ia tertidur, kita bisa-bisa celaka.
Sebagian orang menganggap lampu lalu lintas hanyalah benda penunjuk biasa. Namun sebagian beranggapan bahwa itu adalah pertanda bagi mereka, untuk siap-siap menyambut hari yang baru.
Memang semua hal dalam hidup, tergantung cara kita melihatnya, kan?
Motor-motor di garis terdepan, mobil-mobil antara tengah dan belakang.
Mereka menunggu lampu berwarna hijau, dengan membawa cerita yang berbeda-beda.
Seorang kakek yang membonceng seorang nenek dengan motor tua nya. Sang nenek memeluk tas jinjing berisikan map-map dengan kertas-kertasnya. Ingin segera sampai ke sebuah bank untuk mendapatkan pesangon mereka.
Seorang mahasiswa yang menggendong ransel dan "tas" karton nya, mungkin seorang mahasiswa arsitektur, berpikir keras jam berapa ia akan tiba di kampusnya sambil memegang erat stang motornya, sambil sesekali membuka kaca helm nya dan menggerakan kaki nya.
Seorang laki-laki umur 40 tahunan, dengan jaket coklat tebalnya, membonceng seorang anak dengan tubuh mungil berseragam SD. Sang bapak berpikir apakah ia mampu mengantarkan anaknya tepat pada waktunya sekaligus datang ke tempat kerja pada waktunya, Sang anak yang memeluk erat bapaknya hanya berpikir simple, bagaimana caranya tetap berpegang erat pada ayahnya agar tak terjatuh.
Anak laki-laki dengan seragamnya yang masih terlihat dari kemeja kotak-kotak hijaunya, dengan lingkaran hitam di bawah matanya, tampak menerawang. Kenapa harus ke sekolah lagi.
Di balik pintu mobil sebuah xenia hitam tampak seorang ibu-ibu umur 30 tahunan, dengan seragam warna khaki khas PNS. Wanita itu sesekali melirik jamnya, khawatir terlambat ke kantor.
Di sebelahnya, di sebuah mobil nissan march putih terlihat sepasang pasangan muda yang tampak berseri-seri membicarakan berbagai macam Wedding Organizer. Mungkin mereka akan pergi untuk mencari WO yang tepat untuk pernikahan mereka.
Di sebelah paling pinggir jalan, seorang supir angkot yang tampak sangat santai. Ia menjalani rutinitas setiap harinya, bolak-balik melewati rute yang sama.
Mereka semua sama-sama cemas menunggu si lampu hijau. Tak ingin berlama-lama dengan si lampu merah. Menunggu itu membosankan.
Mereka sama-sama mulai bersemangat ketika lampu kuning sudah menyala. Siap-siap. Para pengendara motor mulai menancapkan gas.
Lalu lampu hijau menyala. Kehidupan dimulai. Saatnya pergi.
Lalu cerita-cerita lain akan dibawakan lagi oleh pengendara-pengendara lain, dan seterusnya akan begitu. Lampu merah tak pernah tidur. Apabila ia tertidur, kita bisa-bisa celaka.
Sebagian orang menganggap lampu lalu lintas hanyalah benda penunjuk biasa. Namun sebagian beranggapan bahwa itu adalah pertanda bagi mereka, untuk siap-siap menyambut hari yang baru.
Memang semua hal dalam hidup, tergantung cara kita melihatnya, kan?
BalasHapusviagra
viagra asli
jual viagra
toko viagra
viagra original
viagra usa
viagra pfizer
obat viagra asli
obat viagra
obat kuat viagra
apotik viagra
apotik viagra asli
agen viagra
agen viagra asli
toko viagra asli
jual viagra asli
agen viagra jakarta
jual viagra jakarta
toko viagra jakarta
apotik viagra jakarta
viagra jakarta
viagra asli jakarta
obat kuat jakarta
obat kuat asli jakarta
harga viagra
harga viagra asli
beli viagra
beli viagra asli
pesan viagra
pesan viagra asli
viagra indonesia
penjual viagra
penjual viagra asli
jual pil biru
toko pil biru
agen pil biru
jual obat kuat
toko obat kuat
viagra asli original
viagra asli usa
viagra asli pfizer
viagra original usa
titan gel
titan gel asli
toko titan gel
jual titan gel
cialis asli
jual cialis
toko cialis