"Aing pengen kadinya"
"Euh aing mah"
"Nya kumaha aing we"
"Ntar aja we pergi nya sama aing"
https://tirto.id/membebaskan-aing-dari-belenggu-hierarki-bahasa-sunda-cn5j
Di artikel ini pun sudah memberikan gambaran sekiranya apa yang harus kita lakukan. Dan sekadar tambahan menurut saya, karena tatanan sunda yang sekarang sudah sangat mendarah daging di kalangan orang-orang sunda, lebih baik tetap gunakan saja tatanan bahasa yang sekarang. Justru sisi positif dari tatanan bahasa sunda yang sekarang adalah dapat membuat orang-orang sunda lebih terkenal karena sopan santunya. Perihal kemurnian bahasa sunda apalagi tentang penggunaan kata aing ini, menurut saya, lebih baik kita jadikan sebuah pengetahuan, atau sejarah, yang membuat kita semakin cinta dengan bahasa sunda. Mungkin suatu hari, akan terjadi perombakan perihal hal ini. Tetapi memang sudah jadi kewajiban kita, untuk tahu asal usul bahasa sunda yang kita gunakan.
"Euh aing mah"
"Nya kumaha aing we"
"Ntar aja we pergi nya sama aing"
Kata "aing" ini pasti sudah familiar di kalangan orang sunda, ataupun para pendatang di daerah Jawa Barat. Bahkan ntah hanya menurut pikiran saya yang sok tahu, kata aing ini ibaratkan gue nya Jakarta, alias sudah jadi bahasa gaul. Why? lantaran abdi sering ngadangu si aing aing eta teh dihijikeun sareng bahasa Indonesia (Sapertos nu ku abdi serat di luhur), sareng siga na barudak sapantareun abdi seeurna terang sareng ngangge aing hungkul dina basa sunda teh. Ieu nu matak miris saur abdi mah. Ya gitu lah, hehe. (Sengaja pake bahasa sunda biar ga terlalu nyindir heheh)
Memang berdasarkan apa yang saya baca dan apa yang saya rasakan, kata aing ini menunjukan kebanggaan diri kita. Dengan berkata "Aing mah ........" atau apapun, dapat menunjukan bahwa kita bangga dengan apa yang kita punya. Namun menurut tata bahasa sunda, kata tersebut tergolong kata kasar. Simple nya, akan sangat kurang ajar kalo kita pake kata ini buat ngomong ke orang yang lebih tua ke kita, dan buat ngomong ke strangers. Bisa-bisa muka kita udah bonyok 2 menit setelah kita ngomong aing ke mereka.
Tapi suatu hari, lama sebelum saya pos postingan ini, saya membaca artikel yang sangaaaat menarik tentang kata aing ini. Awalnya saya ngga sengaja nemu artikel ini, waktu itu saya habis ngejelajah berita di line today (anak line today banget emang), terus kan kalo kita nge klik berita-berita yang agak ke bawah, kita bakal langsung diarahin ke website asli yang nge pos si artikel berita itu. Waktu itu saya lupa saya habis baca berita apa, tapi intinya itu dari website tirto.co.id (they're the best, recommended banget) dan setelah saya beres baca cerita itu, saya nemu artikel tentang aing aing ini di list artikel-artikel gitu. Saya klik deh, karena penasaran. Untuk kamu-kamu yang penasaran juga, silahkan klik link nya :
https://tirto.id/membebaskan-aing-dari-belenggu-hierarki-bahasa-sunda-cn5j
![]() |
Jadi intinya, kata aing ini dalam sastra kuno bahkan digunakan untuk berbicara formal dan untuk berdoa ke Tuhan Yang Maha Esa. Hah? aneh kan? dulu malah buat berdoa, sekarang kata aing ini dikategorikan jadi bahasa yang kasar. Ternyata, menurut artikel tersebut, tatanan bahasa sunda kita yang sekarang adalah tatanan yang disusun oleh orang-orang kolonial Belanda kala itu. Jadi bisa dikatakan (dan yang saya tangkap) bahasa sunda yang sekarang sudah diikutcampuri oleh orang-orang yang bukan asli sunda. Mereka melakukan hal tersebut karena ada sesuatu yang salah terkait bahasa sunda ini, yang kaitanya dengan hierarki sosial masyarakat. (Sekali lagi, ini menurut yang saya tangkap)
Lantas, apa yang harus kita lakukan?
Di artikel ini pun sudah memberikan gambaran sekiranya apa yang harus kita lakukan. Dan sekadar tambahan menurut saya, karena tatanan sunda yang sekarang sudah sangat mendarah daging di kalangan orang-orang sunda, lebih baik tetap gunakan saja tatanan bahasa yang sekarang. Justru sisi positif dari tatanan bahasa sunda yang sekarang adalah dapat membuat orang-orang sunda lebih terkenal karena sopan santunya. Perihal kemurnian bahasa sunda apalagi tentang penggunaan kata aing ini, menurut saya, lebih baik kita jadikan sebuah pengetahuan, atau sejarah, yang membuat kita semakin cinta dengan bahasa sunda. Mungkin suatu hari, akan terjadi perombakan perihal hal ini. Tetapi memang sudah jadi kewajiban kita, untuk tahu asal usul bahasa sunda yang kita gunakan.
Dan satu lagi. Saran saya, buat kita-kita nih yang masih pake aing sembarangan, tolong diperbaiki. Pasalnya, kata saya dalam bahasa sunda tuh bukan aing aja kok. Ada simkuring, abdi, kuring. Jangan sampai, kosa kata yang sering kita gunakan itu aing-aing aja terus. Yuk, perbanyak lagi penggunaan kosa kata nya.
Semoga bermanfaat, Hatur Nuhun!:)


Kalo menurut saya artikel Tirto itu cuma membuka pikiran orang orang yang berbahasa Sunda kasar yang tergeser kepercayaan dirinya untuk berbicara bahasa Sunda hampir semua yg saya dengar orang orang yg berbahasa Sunda kasar cendrung enggan memakai basaha Sunda jika bertemu dengan Sunda Priangan karna berkurangnya kepercayaan diri. Saya bisa rasakan hal itu karna sempat beberapa kali menertawai bahkan mengejek kalau kami sedang berbicara Sunda kasar. Itulah alasannya mungkin artikel Tirto lebih merujukan artikelnya untuk kalangan Sunda kasar saja supaya tak perlu malu atau kecil hati berbahasa Sunda kasar yang semakin hari semakin hilang. Kalaupun benar adanya perubahan bahasa tersebut biarlah apaadanya hanya saja pliss tampil lah biasa saja kalau Sunda kasar itu ada jangan d pandang rendah
BalasHapusBiar bagaimana pun Sunda kasar adalah keseharian bukan ke inginkan untuk kasar
Halo, terima kasih atas tanggapanya, sudah lama saya tidak buka blog saya dan kaget ternyata masih ada yang comment hehe. Sejujurnya itu tulisan yang telah lama saya tulis, waktu itu saya masih kelas 10 SMA dan sekarang saya sudah kuliah semester 2, hehe. Tentunya sudah banyak perspektif yang berubah dari saya perihal hal ini. Tapi saya ingat betul bahwa kala itu tulisan ini berangkat dari kegelisahan saya sebagai anak yang telah lama dididik dan bergaul dengan orang-orang yang menggunakan bahasa sunda sepenuhnya yang kemudian di SMA saya menemukan banyak teman-teman saya yang berbicara bahasa sunda nanggung, hanya kata aing saja selebihnya menggunakan bahasa indonesia. Kemudian artikel yang saya temukan di tirto ini memancing kegelisahan saya untuk kemudian dituangkan dalam tulisan. Sejujurnya saya juga mewajari hal tersebut karena perbedaan kondisi masyarakat di SMP dan SMA, yang mana cenderung lebih beragam karena merupakan kota yang besar. Namun tetap saja saya gelisah karena saya peduli betul bahwa bahasa sunda harus bisa digunakan seutuhnya. Saya sependapat juga perihal penggunaan bahasa kasar yang ya sudah kita pakai saja karena memang sudah menjadi budaya dan saya juga ikut merasakan kesenangan dalam menggunakan bahasa kasar tersebut sampai sekarang. Kala itu saya berharap teman teman saya mau membuka matanya sedikit saja untuk belajar berbahasa sunda bukan hanya tuntutan pelajaran di sekolah saja, karena mau tidak mau kita semua tinggal di lingkungan dengan masyarakat dan budaya sunda. Namun seperti yang telah saya singgung, pada akhirnya, kita juga tidak bisa menampik fakta bahwa tatanan bahasa sunda yang sekarang adalah hasil dari adanya perbedaan kelas sosial yang terlalu dibuat jelas oleh pemerintah kolonial kala itu. Tentunya saya juga optimis, karena yang lalu hanyalah yang lalu dan sekarang sudah tidak ada hierarki diantara masyarakat sunda yang membuat kita harus berbicara lebih sopan kepada orang yang lebih kaya bukan? kita hanya cukup berbicara lebih sopan kepada yang lebih tua daripada kita
BalasHapus